Wednesday, September 21, 2016

KISAH INSPIRATIF

Kisah Kejujuran Seorang Gadis Penjual Susu



Khalifah Umar bin Khattab sering melakukan ronda malam sendirian. Sepanjang malam ia memeriksa keadaan rakyatnya langsung dari dekat. Ketika melewati sebuah gubuk, Khalifah Umar merasa curiga melihat lampu yang masih menyala. Di dalamnya terdengar suara orang berbisik-bisik.
Khalifah Umar menghentikan langkahnya. Ia penasaran ingin tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Dari balik bilik Kalifah umar mengintipnya. Tampaklah seorang ibu dan anak perempuannya sedang sibuk mewadahi susu.
“Bu, kita hanya mendapat beberapa kaleng hari ini,” kata anak perempuan itu.
“Mungkin karena musim kemarau, air susu kambing kita jadi sedikit.”
“Benar anakku,” kata ibunya.
“Tapi jika padang rumput mulai menghijau lagi pasti kambing-kambing kita akan gemuk. Kita bisa memerah susu sangat banyak,” harap anaknya.
“Hmmm….., sejak ayahmu meninggal penghasilan kita sangat menurun. Bahkan dari hari ke hari rasanya semakin berat saja. Aku khawatir kita akan kelaparan,” kata ibunya.
Anak perempuan itu terdiam. Tangannya sibuk membereskan kaleng-kaleng yang sudah terisi susu.
“Nak,” bisik ibunya seraya mendekat. “Kita campur saja susu itu dengan air. Supaya penghasilan kita cepat bertambah.”
Anak perempuan itu tercengang. Ditatapnya wajah ibu yang keriput. Ah, wajah itu begitu lelah dan letih menghadapi tekanan hidup yang amat berat. Ada rasa sayang yang begitu besar di hatinya. Namun, ia segera menolak keinginan ibunya.
“Tidak, bu!” katanya cepat.
“Khalifah melarang keras semua penjual susu mencampur susu dengan air.” Ia teringat sanksi yang akan dijatuhkan kepada siapa saja yang berbuat curang kepada pembeli.
“Ah! Kenapa kau dengarkan Khalifah itu? Setiap hari kita selalu miskin dan tidak akan berubah kalau tidak melakukan sesuatu,” gerutu ibunya kesal.
“Ibu, hanya karena kita ingin mendapat keuntungan yang besar, lalu kita berlaku curang pada pembeli?”
“Tapi, tidak akan ada yang tahu kita mencampur susu dengan air! Tengah malam begini tak ada yang berani keluar. Khalifah Umar pun tidak akan tahu perbuatan kita,” kata ibunya tetap memaksa.
“Ayolah, Nak, mumpung tengah malam. Tak ada yang melihat kita!”
“Bu, meskipun tidak ada seorang pun yang melihat dan mengetahui kita mencampur susu dengan air, tapi Allah tetap melihat. Allah pasti mengetahui segala perbuatan kita serapi apa pun kita menyembunyikannya, “tegas anak itu. Ibunya hanya menarik nafas panjang.
Sungguh kecewa hatinya mendengar anaknya tak mau menuruti suruhannya. Namun,jauh di lubuk hatinya ia begitu kagum akan kejujuran anaknya.
“Aku tidak mau melakukan ketidakjujuran pada waktu ramai maupun sunyi. Aku yakin Allah tetap selalu mengawasi apa yang kita lakukan setiap saat,”kata anak itu.
Tanpa berkata apa-apa, ibunya pergi ke kamar. Sedangkan anak perempuannya menyelesaikan pekerjaannya hingga beres.
Di luar bilik, Khalifah Umar tersenyum kagum akan kejujuran anak perempuan itu.
” Sudah sepantasnya ia mendapatkan hadiah!” gumam khalifah Umar. Khalifah Umar beranjak meniggalkan gubuk itu. Kemudian ia cepat-cepat pulang ke rumahnya.
***
Keesokan paginya, khalifah Umar memanggil putranya, Ashim bin Umar. Di ceritakannya tentang gadis jujur penjual susu itu.
” Anakku, menikahlah dengan gadis itu. Ayah menyukai kejujurannya,” kata khalifah Umar. ” Di zaman sekarang, jarang sekali kita jumpai gadis jujur seperti dia. Ia bukan takut pada manusia. Tapi takut pada Allah yang Maha Melihat.”
Ashim bin Umar menyetujuinya.
***
Beberapa hari kemudian Ashim melamar gadis itu. Betapa terkejut ibu dan anak
perempuan itu dengan kedatangan putra khalifah. Mereka mengkhawatirkan akan ditangkap karena suatu kesalahan.
” Tuan, saya dan anak saya tidak pernah melakukan kecurangan dalam menjual susu. Tuan jangan tangkap kami….,” sahut ibu tua ketakutan.
Putra khalifah hanya tersenyum. Lalu mengutarakan maksud kedatangannya hendak menyunting anak gadisnya.
“Bagaimana mungkin?
Tuan adalah seorang putra khalifah , tidak selayaknya menikahi gadis miskin seperti anakku?” tanya seorang ibu dengan perasaan ragu.
” Khalifah adalah orang yang tidak ,membedakan manusia. Sebab, hanya ketawakalanlah yang meninggikan derajad seseorang disisi Allah,” kata Ashim sambil tersenyum.
” Ya. Aku lihat anakmu sangat jujur,” kata Khalifah Umar. Anak gadis itu saling berpandangan dengan ibunya. Bagaimana khalifah tahu? Bukankah selama ini ia belum pernah mengenal mereka.
” Setiap malam aku suka berkeliling memeriksa rakyatku. Malam itu aku mendengar pembicaraan kalian…,” jelas khalifah Umar.
Ibu itu bahagia sekali. Khalifah Umar ternyata sangat bijaksana. Menilai seseorang bukan dari kekayaan tapi dari kejujurannya.
***
Sesudah Ashim menikah dengan gadis itu, kehidupan mereka sangat bahagia. Keduanya membahagiakan orangtuanya dengan penuh kasih sayang. Beberapa tahun kemudian mereka dikaruniai anak dan cucu yang kelak akan menjadi orang besar dan memimpin bangsa Arab, yaitu Khalifah Umar bin Abdul Aziz

Kisah Kejujuran Syekh Abdul Kadir Jaelani




Pada suatu ketika, Syekh Abdul Kadir Jaelani pergi ke kota Baghdad dengan tujuan menuntut ilmu. Ketika itu, ia masih sangat muda. Dia mengikuti satu khalifah yang akan menuju ke baghdad dari rumahnya, sebelum berangkat, ibunya memberi sedikit uang sebagai bekal untuk berbelanja serta sedikit bekal makanan. Ibunya menyembunyikan uang  itu pada bagian lengan baju anaknya dan dijahitnya supaya tidak diketahui  oleh orang lain.

etelah ia siap, ibunya pun  berpesan kepada Syekh Abdul Kadir. ”Hai anakku, aku hendak memberimu beberapa pesan. Dengarkanlah baik-baik, bila engkau dalam perjalanan  dan berada di negeri orang, hendaklah senantiasa berkata dan  berlaku baik dan benar. Ketahuilah, bahwa orang Islam tidak boleh  berdusta. Hai anakku, hendaklah kau ingat akan sabda Rasul bahwa amanah itu adalah kemenangan. Bertindaklah yang benar, baik dalam perkataan, maupun perbuatan. Dengan demikian Allah swt, akan senantiasa melindungi dirimu.”

Di tengah perjalanan, khalifah itu diserang oleh sekelompok perampok secara tiba-tiba. Para perampok meminta  seluruh orang  dalam khalifah itu  mengeluarkan  semua harta  bendanya. Salah seorang perampok bertanya kepada Syekh Abdul Kadir, ”Hai anak muda, apa yang engkau bawa?” Syekh Abdul Kadir  menjawab, “Aku hanya  membawa  uang empat puluh ashrafis (mata uang pada zaman itu)”. Mendengar jawabannya perampok itu membentak Syekh Abdul kadir. “Apakah  kamu hendak mempermainkan aku ? Kamu pasti berbohong!” Perampok itu berkeyakinan bahwa tidak mungkin Syekh Abdul Kadir hanya membawa uang yang begitu sedikit. Syekh Abdul Kadir berusaha meyakinkan  bahwa dirinya memang benar-benar hanya membawa uang empat puluh  ashrafis. Sekalipun perampok itu terus menekan, Syekh Abdul Kadir  tetap tenang, ia berkata. ”Wahai tuan, orang  yang sedang  menuntut ilmu itu seperti sedang berjalan  menuju  ke surga.

Ia selalu di dampingi oleh malaikat  dan malaikat  itu selalu  menolongnya, saya hendak menuntut ilmu dengan harapan saya dapat menjadi orang yang beriman. Mengapa saya mesti berbohong hanya untuk  uang sebesar empat puluh ashrafis ?. Seorang muslim sejati tidak akan berbohong, sekalipun ia dalam keadaan bahaya dan kesusahan.”

Perampok itu terdiam sejenak setelah mendengar perkataan Syekh Abdul Kadir, ia merasa kagum dan heran dengan sikap  perampok itu  membawa Syekh Abdul Kadir  kepada pemimpinnya.

Di hadapan pemimpin perampok itu Syekh Abdul Kadir memberi tahu tentang tujuannya, yaitu  untuk pergi menuntut ilmu  di negeri Baghdad. “Kalau begitu, engkau tentu membawa uang  bukan ?” kata pemimpin perampok itu. Dengan tenang Syekh Abdul Kadir berkata. ”Ya benar, aku membawa uang sebesar empat pulu ashrafis.” Mendengar perkataannya, pemimpin  perampok itu  tampak menahan marah  dan berkata. ”Apakah engkau hendak mempermainkan diriku ?” Syekh Abdul Kadir  menjelaskan  bahwa dirinya tidak berdusta dan benar-benar  hanya membawa uang  sebesar empat puluh ashrafis. “Ibu  saya telah berpesan kepada  saya  untuk tidak  berbohong. Seorang muslim yang baik  tidak ada berbohong, sekalipun  dalam keadaan bahaya  dan kesusahan. Apalagi, saya akan pergi menuntut ilmu, padahal dalam menuntut ilmu akan menjadi sia-sia  jika saya berbohong”.

Pemimpin perampok itu termenung mendengar perkataan Syekh Abdul Kadir, ia tidak mengira Syekh Abdul Kadir akan berkata demikian. Ia memikirkan perkataan Syekh Abdul Kadir  yang sangat  menyentuh hati pemimpin perampok itu. Ia pun menjadi sedih dan menangis, dan ia  merasa tidak  ada apa-apanya  jika dibandingkan Syekh Abdul Kadir. Syekh Abdul Kadir  tidak mampu  mengkhianati ibunya, sementara  dirinya  mampu  mengkhianati Allah. Akhirnya, pemimpin perampok itu bertobat, ia menyadari kesalahannya selama ini.