Wednesday, September 21, 2016

KISAH INSPIRATIF

Kisah Kejujuran Seorang Gadis Penjual Susu



Khalifah Umar bin Khattab sering melakukan ronda malam sendirian. Sepanjang malam ia memeriksa keadaan rakyatnya langsung dari dekat. Ketika melewati sebuah gubuk, Khalifah Umar merasa curiga melihat lampu yang masih menyala. Di dalamnya terdengar suara orang berbisik-bisik.
Khalifah Umar menghentikan langkahnya. Ia penasaran ingin tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Dari balik bilik Kalifah umar mengintipnya. Tampaklah seorang ibu dan anak perempuannya sedang sibuk mewadahi susu.
“Bu, kita hanya mendapat beberapa kaleng hari ini,” kata anak perempuan itu.
“Mungkin karena musim kemarau, air susu kambing kita jadi sedikit.”
“Benar anakku,” kata ibunya.
“Tapi jika padang rumput mulai menghijau lagi pasti kambing-kambing kita akan gemuk. Kita bisa memerah susu sangat banyak,” harap anaknya.
“Hmmm….., sejak ayahmu meninggal penghasilan kita sangat menurun. Bahkan dari hari ke hari rasanya semakin berat saja. Aku khawatir kita akan kelaparan,” kata ibunya.
Anak perempuan itu terdiam. Tangannya sibuk membereskan kaleng-kaleng yang sudah terisi susu.
“Nak,” bisik ibunya seraya mendekat. “Kita campur saja susu itu dengan air. Supaya penghasilan kita cepat bertambah.”
Anak perempuan itu tercengang. Ditatapnya wajah ibu yang keriput. Ah, wajah itu begitu lelah dan letih menghadapi tekanan hidup yang amat berat. Ada rasa sayang yang begitu besar di hatinya. Namun, ia segera menolak keinginan ibunya.
“Tidak, bu!” katanya cepat.
“Khalifah melarang keras semua penjual susu mencampur susu dengan air.” Ia teringat sanksi yang akan dijatuhkan kepada siapa saja yang berbuat curang kepada pembeli.
“Ah! Kenapa kau dengarkan Khalifah itu? Setiap hari kita selalu miskin dan tidak akan berubah kalau tidak melakukan sesuatu,” gerutu ibunya kesal.
“Ibu, hanya karena kita ingin mendapat keuntungan yang besar, lalu kita berlaku curang pada pembeli?”
“Tapi, tidak akan ada yang tahu kita mencampur susu dengan air! Tengah malam begini tak ada yang berani keluar. Khalifah Umar pun tidak akan tahu perbuatan kita,” kata ibunya tetap memaksa.
“Ayolah, Nak, mumpung tengah malam. Tak ada yang melihat kita!”
“Bu, meskipun tidak ada seorang pun yang melihat dan mengetahui kita mencampur susu dengan air, tapi Allah tetap melihat. Allah pasti mengetahui segala perbuatan kita serapi apa pun kita menyembunyikannya, “tegas anak itu. Ibunya hanya menarik nafas panjang.
Sungguh kecewa hatinya mendengar anaknya tak mau menuruti suruhannya. Namun,jauh di lubuk hatinya ia begitu kagum akan kejujuran anaknya.
“Aku tidak mau melakukan ketidakjujuran pada waktu ramai maupun sunyi. Aku yakin Allah tetap selalu mengawasi apa yang kita lakukan setiap saat,”kata anak itu.
Tanpa berkata apa-apa, ibunya pergi ke kamar. Sedangkan anak perempuannya menyelesaikan pekerjaannya hingga beres.
Di luar bilik, Khalifah Umar tersenyum kagum akan kejujuran anak perempuan itu.
” Sudah sepantasnya ia mendapatkan hadiah!” gumam khalifah Umar. Khalifah Umar beranjak meniggalkan gubuk itu. Kemudian ia cepat-cepat pulang ke rumahnya.
***
Keesokan paginya, khalifah Umar memanggil putranya, Ashim bin Umar. Di ceritakannya tentang gadis jujur penjual susu itu.
” Anakku, menikahlah dengan gadis itu. Ayah menyukai kejujurannya,” kata khalifah Umar. ” Di zaman sekarang, jarang sekali kita jumpai gadis jujur seperti dia. Ia bukan takut pada manusia. Tapi takut pada Allah yang Maha Melihat.”
Ashim bin Umar menyetujuinya.
***
Beberapa hari kemudian Ashim melamar gadis itu. Betapa terkejut ibu dan anak
perempuan itu dengan kedatangan putra khalifah. Mereka mengkhawatirkan akan ditangkap karena suatu kesalahan.
” Tuan, saya dan anak saya tidak pernah melakukan kecurangan dalam menjual susu. Tuan jangan tangkap kami….,” sahut ibu tua ketakutan.
Putra khalifah hanya tersenyum. Lalu mengutarakan maksud kedatangannya hendak menyunting anak gadisnya.
“Bagaimana mungkin?
Tuan adalah seorang putra khalifah , tidak selayaknya menikahi gadis miskin seperti anakku?” tanya seorang ibu dengan perasaan ragu.
” Khalifah adalah orang yang tidak ,membedakan manusia. Sebab, hanya ketawakalanlah yang meninggikan derajad seseorang disisi Allah,” kata Ashim sambil tersenyum.
” Ya. Aku lihat anakmu sangat jujur,” kata Khalifah Umar. Anak gadis itu saling berpandangan dengan ibunya. Bagaimana khalifah tahu? Bukankah selama ini ia belum pernah mengenal mereka.
” Setiap malam aku suka berkeliling memeriksa rakyatku. Malam itu aku mendengar pembicaraan kalian…,” jelas khalifah Umar.
Ibu itu bahagia sekali. Khalifah Umar ternyata sangat bijaksana. Menilai seseorang bukan dari kekayaan tapi dari kejujurannya.
***
Sesudah Ashim menikah dengan gadis itu, kehidupan mereka sangat bahagia. Keduanya membahagiakan orangtuanya dengan penuh kasih sayang. Beberapa tahun kemudian mereka dikaruniai anak dan cucu yang kelak akan menjadi orang besar dan memimpin bangsa Arab, yaitu Khalifah Umar bin Abdul Aziz

Kisah Kejujuran Syekh Abdul Kadir Jaelani




Pada suatu ketika, Syekh Abdul Kadir Jaelani pergi ke kota Baghdad dengan tujuan menuntut ilmu. Ketika itu, ia masih sangat muda. Dia mengikuti satu khalifah yang akan menuju ke baghdad dari rumahnya, sebelum berangkat, ibunya memberi sedikit uang sebagai bekal untuk berbelanja serta sedikit bekal makanan. Ibunya menyembunyikan uang  itu pada bagian lengan baju anaknya dan dijahitnya supaya tidak diketahui  oleh orang lain.

etelah ia siap, ibunya pun  berpesan kepada Syekh Abdul Kadir. ”Hai anakku, aku hendak memberimu beberapa pesan. Dengarkanlah baik-baik, bila engkau dalam perjalanan  dan berada di negeri orang, hendaklah senantiasa berkata dan  berlaku baik dan benar. Ketahuilah, bahwa orang Islam tidak boleh  berdusta. Hai anakku, hendaklah kau ingat akan sabda Rasul bahwa amanah itu adalah kemenangan. Bertindaklah yang benar, baik dalam perkataan, maupun perbuatan. Dengan demikian Allah swt, akan senantiasa melindungi dirimu.”

Di tengah perjalanan, khalifah itu diserang oleh sekelompok perampok secara tiba-tiba. Para perampok meminta  seluruh orang  dalam khalifah itu  mengeluarkan  semua harta  bendanya. Salah seorang perampok bertanya kepada Syekh Abdul Kadir, ”Hai anak muda, apa yang engkau bawa?” Syekh Abdul Kadir  menjawab, “Aku hanya  membawa  uang empat puluh ashrafis (mata uang pada zaman itu)”. Mendengar jawabannya perampok itu membentak Syekh Abdul kadir. “Apakah  kamu hendak mempermainkan aku ? Kamu pasti berbohong!” Perampok itu berkeyakinan bahwa tidak mungkin Syekh Abdul Kadir hanya membawa uang yang begitu sedikit. Syekh Abdul Kadir berusaha meyakinkan  bahwa dirinya memang benar-benar hanya membawa uang empat puluh  ashrafis. Sekalipun perampok itu terus menekan, Syekh Abdul Kadir  tetap tenang, ia berkata. ”Wahai tuan, orang  yang sedang  menuntut ilmu itu seperti sedang berjalan  menuju  ke surga.

Ia selalu di dampingi oleh malaikat  dan malaikat  itu selalu  menolongnya, saya hendak menuntut ilmu dengan harapan saya dapat menjadi orang yang beriman. Mengapa saya mesti berbohong hanya untuk  uang sebesar empat puluh ashrafis ?. Seorang muslim sejati tidak akan berbohong, sekalipun ia dalam keadaan bahaya dan kesusahan.”

Perampok itu terdiam sejenak setelah mendengar perkataan Syekh Abdul Kadir, ia merasa kagum dan heran dengan sikap  perampok itu  membawa Syekh Abdul Kadir  kepada pemimpinnya.

Di hadapan pemimpin perampok itu Syekh Abdul Kadir memberi tahu tentang tujuannya, yaitu  untuk pergi menuntut ilmu  di negeri Baghdad. “Kalau begitu, engkau tentu membawa uang  bukan ?” kata pemimpin perampok itu. Dengan tenang Syekh Abdul Kadir berkata. ”Ya benar, aku membawa uang sebesar empat pulu ashrafis.” Mendengar perkataannya, pemimpin  perampok itu  tampak menahan marah  dan berkata. ”Apakah engkau hendak mempermainkan diriku ?” Syekh Abdul Kadir  menjelaskan  bahwa dirinya tidak berdusta dan benar-benar  hanya membawa uang  sebesar empat puluh ashrafis. “Ibu  saya telah berpesan kepada  saya  untuk tidak  berbohong. Seorang muslim yang baik  tidak ada berbohong, sekalipun  dalam keadaan bahaya  dan kesusahan. Apalagi, saya akan pergi menuntut ilmu, padahal dalam menuntut ilmu akan menjadi sia-sia  jika saya berbohong”.

Pemimpin perampok itu termenung mendengar perkataan Syekh Abdul Kadir, ia tidak mengira Syekh Abdul Kadir akan berkata demikian. Ia memikirkan perkataan Syekh Abdul Kadir  yang sangat  menyentuh hati pemimpin perampok itu. Ia pun menjadi sedih dan menangis, dan ia  merasa tidak  ada apa-apanya  jika dibandingkan Syekh Abdul Kadir. Syekh Abdul Kadir  tidak mampu  mengkhianati ibunya, sementara  dirinya  mampu  mengkhianati Allah. Akhirnya, pemimpin perampok itu bertobat, ia menyadari kesalahannya selama ini.


Penerapan kejujuran dalam kehidupan sehari-hari

Penerapan sikap jujur kehidupan kita itu sangat perlu dan di butuhkan dalam kehidupan sehari hari. Karena sikap jujur itu adalah sikap yang baik dan terpuji.Kejujuran adalah sangat penting bagi setiap orang dan kia harus terbiasa menanamkan serta menerapkan itu alam kehidupan sehari hari. Karean setiap orang itu bebebeda mempunyai suatu perilaku dan tidak semua amanah bersifat umum dan terbuka. Ada amanah yang memang sengaja di berikan seseorang kepada orang lain, namunbersikap khusus atau rahasia. Karena itu, pentingnya sekali adaya kejujuran bagi orang yang memeganb amanah tersebut agar tidak terjadi penghianatan dengan menyebarkan amanah dengan menyebarkan kepada orang lain. Namun sebenaranya itu memegang tanggung jawab yang sangat besar.

  1. Jika bersalah harus mengakui kesalahanya
  2. Antara ucapan dan perbuatan harus sama
  3. Memberitakan sesuatu hal baik ke orang tua ataupun kedalam lingkungan masayarakat
  4. Memegang dan menjalankan amanah dengan baik

Kejujuran sangat di perlukan dalam berbagai aspek kehidupan. Dan dalam keluarga, kejujuran sangat diperlukan agar rasa kekeluargaan yang ada dapat terjaga dan tertuuk dengan baik. Jika kejujuran tidak di biasakan dalam lingkup keluraga maka yang ada adalah pertengkaran dan akhirnya rasa kekelurgaan akan renggang. Karena kejujuran satu pondasi iman yang mendasari iman seseoarang karena ssesungguhnya iman itu adalah membenarkan dalm hati akan adanya Allah SWT. Maka orang yang tidak jujur dalam kehidupanya ituu oarng yang mehilangkan keimananya dalam hidupnya.
Penerapanya itu di mulai dari usia dini dan dan padaa keluarga bisa di terapkannya sikap jujur supaya dalam keluarga tersebut bisa terjalin lebih erat dan tidak ada kata bohong di dalam keluarga. 


Rasulullah saw. bersabda: "Orang yang tidak jujur di dunia ini, tidak menyampaikan amanah kepada yang berhak, dan meninggal dalam keadaan demikian, sesungguhnya telah meninggalkan dunia dalam keadaan keluar dari umatku dan tidak dianggap sebagai umatku, dan dia akan menemui Allah, yang dia buat marah dan murka, dan dia akan mendapatkan azab Allah."


Rasulullah saw. juga bersabda: "Untuk mengenal orang, jangan hanya melihat berapa banyak shalat yang dia kerjakan, berapa banyak dia berpuasa, atau berapa sering dia pergi haji, dan berapa banyak derma yang telah dia keluarkan. Jangan pula memperhatikan nama dan kemasyhurannya, menyangkut ibadah malamnya. Tetapi perhatikan kebenaran dan kejujurannya."

Kebalikan dari sifat jujur adalah khianat. Khianat dapat diartikan tidak bisa memegang amanah, khianat merupakan perbuatan buruk yang bisa menghinakan manusia dan menurunkan derajatnya. Contoh dari sifat khianat misalnya, ketika ujian sekolah, seorang siswa diberi amanah untuk mengerjakan soal-soal ujian tersebut dengan benar dan penuh tanggung jawab, dalam artian tidak boleh mencontek atau mencontoh jawaban siswa lain. Amanah yang sifatnya sepertinya remeh ini justru disepelekan oleh para siswa yang tidak memiliki kejujuran.

Tentu saja tidak ada orang lain yang ikut merasakan kerugian akibat ketidakjujurannya tersebut, kecuali dirinya sendiri, selain kerugian atas pembodohan dirinya sendiri tapi juga 'kerugian' yang harus ditanggung di akhirat kelak. Firman Allah swt. dalam QS. al-Ahzab disebutkan: "Sesungguhnya kami telah mengemukakan amanah kepada langit dan bumi, dan gunung-gunung, mereka semuanya enggan untuk memikul amanah tersebut karena khawatir akan menghianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zhalim dan amat bodoh."

Segala sesuatu yang didasarkan pada kebohongan tidak akan mencapai keberhasilan. Kalaupun bisa berhasil pasti tidak akan bertahan lama karena suatu saat jika kebohongan itu terbongkar maka yang ada adalah kekecewaan. Ada pepatah yang mengatakan: "Sepandai-pandai orang menyimpan bangkai, pasti akan tercium juga baunya." Kebohongan yang tersimpan serapi apapun suatu saat pasti akan terbongkar juga.

Kejujuran sangat diperlukan dalam berbagai aspek kehidupan. Dalam kehidupan keluarga, kejujuran sangat diperlukan agar rasa kekeluargaan yang ada dapat terjaga dan terpupuk dengan baik. Jika kejujuran tidak dibiasakan dalam lingkup keluarga maka yang ada adalah percekcokan dan pertengkaran dan akhirnya rasa kekeluargaan akan renggang.

Kejujuran dalam bermasyarakat perlu juga diterapkan, karena hal ini menyangkut hajat hidup orang banyak. Kejujuran seseorang akan mengantarkan pada sikap amanah yang orang berikan kepadanya. Pemimpin yang memiliki sifat jujur akan berusaha mementingkan kepentingan rakyat dari pada kepentingan sendiri. Karena ia akan berusaha mengemban amanah yang telah diberikan rakyat kepadanya. Ia tidak akan berani berbuat yang melanggar aturan yang dapat merugikan rakyatnya dan rakyat pun akan semakin mencintai pemimpin tersebut. Jika kejujuran dalam kehidupan bermasyarakat dan negara dapat diterapkan dengan baik maka insya Allah bangsa kita ini akan menjadi bangsa yang makmur, tentram, dan damai.

Maka dari itu penting bagi kita untuk menanamkan kejujuran dalam hati dan setiap langkah kita, dengan berlaku jujur maka seseorang akan menjadi orang yang amanah, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain, dan akan memetik hasil atas perbuatannya yang berasaskan kejujuran tersebut. Dan sebaliknya orang yang dalam hatinya bercokol sifat khianat maka ia akan dijauhi orang lain dan akan memetik kerugian atas semua perngkhianatan yang ia tanam. Hilangnya kejujuran berarti hilang pula harga diri dan kepercayaan terhadap diri sendiri. Dan ingatlah bahwa kejujuran juga merupakan rahasia diri untuk meraih cita-cita dan kebahagiaan.



MANFAAT KEJUJURAN


Sikap jujur merupakan sikap terpuji yang tentunya banyak sekali manfaatnya apabila kita bisa membiasakan diri dengan sikap jujur dalam kehidupan sehari-hari. Memang sulit tetapi dengan sikap jujur kita mudah dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Berikut ini beberapa mamfaat, apabila kita bisa bersikap jujur:

1.      Dalam menjalani kehidupan sehari-hari tak merasa di bebani. Maksudnya bila kita jujur tentunya tidak ada kebohongan yang harus di tutup-tutupi. Dalam hal lisan secara otomatis dapat berbicara tanpa ada larangan atau pantangan yang harus dibicarakan dan bisa mengungkapkan kata-kata secara leluasa dan mencritakan segala yang terjadi. Sedangkan dalam hal perbuatan tidak ada yang harus disembunyi-sembunyikan. Secara leluasa dapat bebas melakukan sesuatu tanpa takut ketahuan oleh siapapun.

2.      Timbul rasa percaya diri pada diri sendiri. Merasa optimis mampu melakukan sesuatunya tanpa ada rasa ragu dalam benak dengan dasar-dasar yang kuat walaupun hasil yang tidak memuaskan. Segala apapun, apabila dilakukan dengan rasa percaya diri akan terasa senang karena dapat sebagai ukuran kemampuaannya. Tentunya dimasa yang akan datang akan sangat mempengaruhi dalam kehidupan di dalam banyak hal, mulai dari pekerjaan, hubungan keluarga, hubungan masyarakat, hubungan pertemanan dan banyak lagi.

3.      Bersikap jujur dalam kehidupan masyarakat tentunya akan banyak membawa dampak positif. Misal saja jika kita jujur dalam hal pemilu pasti akan tidak ada lagi yang suap menyuap. Fakta dalam masyarakat kalau ada pemilihan pemimpin baru, entah itu Presiden atau Gubernur atau Bupati hingga sampai pemilihan ketua RTpun banyak yang melakukan suap agar memenangkan dalam pemilihan. Bahkan yang menerima itu termasuk sama dengan yang menyuap. Karena dengan menerima suap tadi, maka dengan terpaksa harus memilih yang sudah diperintahkan orang yang meyuap, dan bukan dari hati nurani sendiri.

4.      Dampak sikap jujur dalam keluarga tentunya membuat anggota keluarga tersebut menjadi nyaman, karena antar keluarga dapat berinteraksi tanpa beban dan saling membantu apabila ada maslah dalam satu pihak keluarga.

5.      
Bagi seorang pelajar tentunya mempunyai angan-angan untuk mendapatkan sebuah pekerjaan yang enak tetepi dapat menghasilkan uang banyak. Nah, dengan mempunyai perilaku yang jujur tentunya akan mempermudah untuk mendapatkan dan lebih-lebih menciptakan sebuah pekerjaan yang di inginkan. Hal ini dikarenakan seseorang yang mempunyai sikap jujur maka ia akan mudah mengerti jika diberikan sebuah persoalan-persolan yang ditugaskannya kepada seseorang tersebut. Kemungkinan besar akan mempermudah menyelesaikan tugas-tugasnya dan cepat tanggap dengan segala masalah-masalah yang menghadang.

6.      Pada diri pribadi akan timbul sikap yang tidak selalu bergantung pada orang lain. Akan hidup mandiri.

7.      “Melaksanakan ajaran yang mulia dari agama dan budaya luhur yang dianut oleh bangsa manapun. Akan dihormati oleh sesama manusia, karena semua orang menghargai kejujuran yang sejati. Sang generasi akan berani melawan kemungkaran, karena merasa benar atau tidak bersalah, dengan batinnya yang bening”(1)

8.      “Kejujuran membawa pelakunya bersikap berani, karena ia kokoh tidak lentur, dan karena ia berpegang teguh tidak ragu-ragu. Karena itu disebutkan dalam salah satu definisi jujur adalah: berkata benar di tempat yang membinasakan”(2)

9.      Dengan berkikap meupun bersifat jujur tentunya Allah SWT akan member balasan yang tak terkira oleh kita.















Dalil Nalqi mengenai kejujuran

DALIL MENGENAI KEJUJURAN


1) Q.S. AL-MAIDAH / 5:8



"Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."



KANDUNGAN :

Al Biqa’i mengemukakan bahwa sebelum ayat ini telah ada perintah untuk berlaku adil terhadap istri-istri, sedangkan ada di antara istri-istri itu yang non muslim (ahl al kitab) karena surat ini pun telah mengizinkan untuk mengawininya, adalah sangat sesuai jika izin tersebut disusul dengan perintah untuk bertakwa. Karena qawwamin, yakni orang-orang yang selalu dan bersungguh-sungguh menjadi pelaksana yang sempurna terhadap tugas-tugas kamu, terhadap wanita, dan lain-lain dengan menegakan kebenaran dami karena Allah serta menjadi saksi dengan adil. Janganlah sekali-kali kamu menaruh kebencian terhadap keluarga istri kamu yang ahl al kitab itu maupun terhadap selain mereka. Berlaku adilah, terhadap siapa pun walau atas dirimu sendiri karena ia, yakni adil itu, lebih dekat kepada takwa yang sempurna daripada selain adil. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.[1]

Adapun pada ayat Al-Maidah ini, ia dikemukakan setelah mengingatkan perjanjian-perjanjian dengan Allah dan rasul-Nya sehingga ingin digarisbawahi adalah pentingnya melaksanakan secara sempurna seluruh perjanjian itu, dan itulah yang dikandung oleh qawwami lillah. Diatas dinyatakan bahwa adil lebih dekat kepada takwa. Perlu dicatat bahwa keadilan dapat merupakan kata yang menunjuk subtansi ajaraan Islam. Jika ada agama yang menjadikan kasih sebagai tuntunan tertinggi, Islam tidak demikian. Ini kerana kasih, dalam kehidupan pribadi apalagi masyarakat, dapat berdampak buruk.




2) Q.S. AT-TAUBAH / 9:119


"Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar."

kandungan :

Iman kepada Tuhan memiliki derajat dan tingkatan. Sedangkan merasa sudah beriman kepada Allah Swt dan Hari Kiamat tidaklah cukup. Karena itu iman haruslah disertai dengan kejujuran dan teremplementasikan dalam pekerjaan sehari-hari. Iman kepada Allah dan Hari Kiamat bukanlah sesuatu yang diucapkan dengan lisan saja. Memang benar bahwa hanya dengan mengucapkan dua kalimat syahadat, seseorang sudah dianggap dan diperlakukan sebagai muslim. Akan tetapi, untuk mencapai derajat seorang mukmin, seseorang harus membuktikan kejujuran kalimat syahadat yang ia ucapkan itu dengan melaksanakan taat dan menjauhi maksiat, sehingga dia akan terselamatkan dari api neraka.

Meski iman kepada Allah terdapat di dalam hati, namun ia perlu diikrarkan secara lisan dan perbuatannya sama  satu dan tidak berbeda. Dengan kata lain apa yang diucapkan oleh lisan haruslah menjadi keyakinan dalam hati, kemudian terejawantahkan dalam perbuatan, yang mencerminkan kejujuran keislaman yang diucapkan dengan lisan. Oleh karena itu, Allah Swt dalam ayat ini berpesan agar orang-orang mukmin menjadi orang yang bersih dan jujur, serta selalu berada bersama orang-orang yang jujur dan benar.
Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:
1. Selalu bersama orang-orang saleh, baik dan jujur merupakan jalan pendidikan bagi manusia agar terjauhkan dari jalan yang menyimpang dan sesat.
2. Kejujuran dan kebenaran seberapapun kasarnya memiliki nilai di sisi Allah. Sebagaimana Allah swt telah mengenalkan para wali-Nya yang maksum sebagai orang-orang "Shadiqin".


Sunday, September 18, 2016

Defenisi Kejujuran

APA ITU JUJUR ?


 Jujur adalah sikap atau sifat seseorang yang menyatakan sesuatu degan sesungguhnya  dan apa adanya, tidak di tambahi ataupun tidak dikurangi. Sifat jujur ini harus dimiliki oleh setiap manusia, karena sifat dan sikap ini merupakan prinsip dasar dari cerminan akhlak seseorang. Jujur juga dapat menjadi cerminan dari kepribadian seseorang bahkan kepribadian bangsa. Oleh sebab itulah kejujuran bernilai tinggi dalam kehidupan manusia. Kejujuran banyak dicontohkan langsung oleh Rasulullah. Dapat kita ambil keteladanan dari Rasul kita Nabi Muhammad saw. Yang memiliki sifat wajib bagi Rasul, salah satunya “amanat” yang berarti dapat dipercaya. Mengapa dapat dipercaya ? Jawabannya karena kejujuran. Allah menyuruh kita untuk menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya. Amanat berarti kepercayaan. Orang yang dipercaya  tidak pantas untuk melakukan kebohongan. Kejujuran adalah bekal bagi kita untuk mendapatkan kepercayaan dari orang lain. Jika seseorang telah memiliki kejujuran maka sesuatu yang wajar jika bila orang tersebut dapat dipercaya, diberi amanat , oleh orang banyak. Dan amanat itu sendiri akan disampaikan kepada yang berhak menerimanya, bukan kepada orang yang tidak berhak menerimanya. Orang yang jujur jugalah yang akan tenang dalam menjalani hidup di dunia yang fana ini. Betapa hancurnya dunia akan sangat terasa apabila mayoritas orang-orang yang jujur sangat sedikit.

         Jujur memang suatu kegiatan yang mudah, apalagi bagi kita yang memiliki iman dan ketakwaan yang kuat kepada Allah. Tapi sangat sulit bagi mereka yang makanan sehari-harinya berbohong . Kebohongan hanya akan membawa malapetaka bagi kehidupan kita di dunia maupun di akhirat kelak. Sekali berbohong  ketahuan, maka jangan heran jka kepercayaan orang akan luntur kepada kita.

          Berperilaku jujur, tidak akan merugikan kita. Justru banyak hal yang dapat kita ambil dari kejujuran. Kejujuran membawa manfaat yang begitu banyak, antara lain dapat membuat seseorang menjadi dapat dipercaya, disenangi orang lain, mudah mendapat lapangan pekerjaan, dan yang paling penting adalah dicintai oleh Allah swt. Kejujuran dapat memudahkan seseorang dalam mendapatkan pekerjaan karena kejujuran adalah poin penting dari kepribadiaan seseorang yang dapat dijadikan pedoman dalam menjalankan semua pekerjaannya.

          Kejujuran membawa begitu banyak manfaat bagi siapa saja yang melakukannya, dapat kita lihat sebagai berikut :
1 . Orang jujur akan dipercaya.
     Orang jujur akan dipercaya karena ia memiliki sifat dan sikap suka berterus terang, berbicara        atau berbuat apa adanya , tidak terjadi penambahan ataupun pengurangan kata dalam menyampaikan amanat seseorang.
2 . Orang jujur disayangi teman.
      Hal ini dapat dilihat pada kehidupan kita sehari-hari. Semua orang tidak ada yang suka pada pembohong dan pendusta. Sebaliknya orang sangat menyukai orang yang memiliki sifat jujur,   bicara apa adanya, dan tidak berbohong. Oleh karena itu orang yang selalu berkata jujur memiliki banyak teman yang sangat sayang kepadanya.
3 . Orang jujur mudah dalam mendapatkan pekerjaan.
      Hal ini dapat dimengerti, sebab tidak seorang pun pemimpin suatu perusahaan, mau menerima calon pegawai di perusahaannya, apabila sudah jelas-jelas orang itu pembohong dan pendusta. Jika diterima, berarti sudah merupakan konsekuensi dari perusahaan yang telah menerima seorang pembohong tersebut dan siap-siap menjadi korban kebohongan orang tersebut.
4 . Orang jujur dicintai Allah swt.
      Jujur adalah perintah Allah. Orang yang melakukan kejujuran berarti menjalankan perintah Allah, dan Allah sangat menyukai hamba-hamba-Nya yang taat, dan Allah membenci hamba-Nya yang ingkar.


       Sifat jujur yang merupakan hal yang mutlak dalam kehidupan dapat kita ambil dari begitu banyak contoh dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hidup ini banyak sekali contoh kejujuran yang dapat kita terapkan, antara lain:

1 . Melaksanakan amanat seseorang.
      Secara tidak disangka-sangka orang lain kadang –kadang menitipkan sesuatu kepada kita baik berupa pesan, uang, barang, atau yang lainnya untuk disampaikan kepada orang lain yang berhak menerimanya , atau hanya sekedar dititipkan sampai waktunya barang atau uang tersebut diambil kembali . Apabila menerima titipan seperti itu, titipan tersebut harus betul-betul dilaksanakan sesuai dengan yang dipesankan. Kalau berupa pesan maka pean tersebut tidak boleh ditambah atau dikurangi. Demikian pula kalau berupa uang atau barang harus jga dijaga dengan baik supaya tidak hilang atau rusak.

2 . Menyimpan rahasia orang yang harus dijaga.
       Dalam hidup ini banyak yang harus kita bicarakan, tetapi ada pula yang tidak boleh kita bicarakan kepada orang lain atau harus dirahasiakan. Misalnya ada seorang anak yang dikejar dan akan dibunuh orang dengan sadis dan kejam. Tiba-tiba anak tersebut bersembunyi di salah satu rumah dan kita mengetahuinya Orag yang mengejar kehilangan jejak kemudian bertanya, “Apakah Anda melihat seorang anak berlari dan bersembunyi di sekitar sini?” Kita jawab “Tidak!” Maka kita telah menolong dan menyelamatkan jiwa anak tersebut.

3 . Tidak menyontek ketika mendapat tugas pelajaran di sekolah .
       Mencontoh atau mencontek ketika mendapat tugas pelajaran di sekolah adalah perbuatan yang tidak dibenarkan. Sebab tugas pelajaran tersebut adalah tugas perorangan yang tidak boleh satu sama lain mencontoh. Andai saja dari hasil mencontoh mendapat nilai bagus sesungguhnya yang mendapat nilai bagus tersebut bukanlah kita tetapi orang lain tempat kita mencontoh . Pendek kata perbuatan mencontoh adalah perbuatan yang tidak jujur dan menipu diri sendiri.



4 . Melaksanakan tugas dengan baik dan tanggung jawab.
       Orang jujur sekali ia mendapat atau menerima tugas, tugas tersebut pasti di kerjakan secara maksimal dan penuh tanggung jawab. Sebaliknya jika ia merasa tidak sanggup atau tidak bersedia, sebelumnya pasti ia katakan tidak atau belum mau menerima tugas itu Sebab orang jujur, tidak akan berkata “ya” jika dalam hatinya “tidak”.Orang yang jujur, tidak akan bersifat munafik di hadapan orang lain.


Macam-macam Sifat Jujur dalam Agama Islam


Dalam Agama Islam, setidaknya dikenal lima jenis sifat jujur yang harus dimiliki oleh penganutnya, yaitu :

  1. Shidq Al – Qalbi
Shidq Al – Qalbi merupakan sifat jujur yang penerapannya ada pada niat seorang manusia.
  1. Shidq Al – Hadits
Shidq Al – Hadits merupakan sifat jujur yang penerapannya ada pada perkataan yang diucapkan oleh manusia.
  1. Shidq Al – Amal
Shidq Al – Amal merupakan sifat jujur yang penerapannya ada pada aktivitas dan perbuatan manusia.
  1. Shidq Al – Wa’d
Shidq Al – Wa’d merupakan sifat jujur yang penerapannya ada pada janji yang diucapkan oleh manusia.
  1. Shidq Al – Hall
Shidq Al – Hall merupakan sifat jujur yang penerapannya ada pada kenyataan yang terjadi dalam hidup manusia.






Thursday, September 8, 2016

Berbagai Kisah Inspiratif

Seorang wanita yang rajin beribadah, namun tidak berhijab


Ada seorang wanita yang dikenal taat beribadah.Ia kadang menjalankan ibadah sunnah. Hanya satu kekurangannya, Ia tak mau berjilbab. Menutup auratnya. Setiap kali ditanya ia hanya tersenyum danmenjawab”Insya Allah yang penting hati dulu yang berjilbab. ”Sudah banyak orang menanyakan maupun menasehatinya. Tapi jawabannya tetap sama.

Hingga di suatu malam.Ia bermimpi sedang di sebuah taman yang sangat indah. Rumputnya sangat hijau, berbagai macam bunga bermekaran. Ia bahkan bisamerasakan segarnya udara dan wanginya bunga. Sebuah sungai yang sangat jernih hingga dasarnya kelihatan, melintas dipinggir taman.Semilir angin pun ia rasakan di sela-sela jarinya.

Ia tak sendiri.Ada beberapa wanita disitu yang terlihat juga menikmati keindahan taman. Ia pun menghampiri salah satu wanita. Wajahnya sangat bersih seakan-akan memancarkan cahaya yang sangat lembut.

“Assalamu'alaikum,saudariku....”

“Wa'alaikum salam. Selamat datang saudariku”

“Terima kasih. Apakah ini surga?”

Wanita itu tersenyum. “Tentu saja bukan, saudariku. Ini hanyalah tempat menunggu sebelum ke surga ”

“Benarkah? Tak bisa kubayangkan sepertiapa indahnya surga jika tempat menunggunya saja sudah seindah ini. ”

Wanita itu tersenyum lagi ”Amalan apa yang bisa membuatmu kemari, saudariku ?”

“Aku selalu menjaga waktu shalat dan aku menambahnya dengan ibadah sunnah. ”

“Alhamdulillah..”

Tiba-tiba jauh di ujung taman ia melihat sebuah pintu yang sangat indah. Pintu itu terbuka. Dan ia melihat beberapa wanita yang berada di Taman mulai memasukinya satu-persatu.

“Ayo kita ikuti mereka” kata wanita itu setengah berlari.

“ Apa di balik pintu itu?” Katanya sambil mengikuti wanita itu

“ Tentu saja surga saudariku” larinya semakin cepat

“ Tunggu..tunggu aku..”

dia berlari namun tetap tertinggal. Wanita itu hanya setengah berlari sambil tersenyum kepadanya. Ia tetap tak mampu mengejarnya meski ia sudah berlari. Ia lalu berteriak

“Amalan apa yang telah kau lakukan hingga engkau begitu ringan ?”

“Sama dengan engkau saudariku.” jawab wanita itu sambil tersenyum

Wanita itu telah mencapai pintu. Sebelah kakinya telah melewati pintu. Sebelum wanita itu melewati pintu sepenuhnya, ia berteriak pada wanita itu.

“ Amalan apalagi yang kau lakukan yang tidak kulakukan ?”

Wanita itu menatapnya dan tersenyum. Laluberkata

“Apakah kau tak memperhatikan dirimu, apa yang membedakan dengandiriku ?”

Ia sudah kehabisan napas, tak mampu lagi menjawab.

“ Apakah kau mengira Rabbmu akan mengijinkanmu masuk ke Surga-NYa tanpa jilbab menutup auratmu ?”

Tubuh wanita itu telah melewati pintu, tapi tiba-tiba kepalanya mengintip keluar, memandangnya dan berkata

”Sungguh sangat disayangkan amalanmu tak mampu membuatmu mengikutiku memasuki surga ini untuk dirimu. Cukuplah surga hanya sampai hatimu karena niatmu adalah menghijabi hati.”

Ia tertegun..lalu terbangun..beristighfar lalu mengambil air wudhu. Ia tunaikan shalat malam. Menangis dan menyesali perkataanya dulu.. berjanji pada Allah sejak saat itu ia akan menutup auratnya



Menjadi sepenuhnya muslim


Kakak mentorku berkata, “Kalau tidak sekarang, kapan lagi kita akan berjilbab? Kita tidak tahu kapan kita akan mati. Apakah kita mau mati dalam keadaan kita belum melakukan kewajiban kita, yaitu menutup aurat?

Perkataan mentorku itu dibalas dengan semangat oleh teman sekelompokku yang seorang muallaf. Ia mengatakan dengan lantang bahwa ia akan mengenakan jilbab. Mendengar perkataannya, aku hanya mampu berkata dalam hati, ”Subhanallah, padahal dia baru masuk Islam, tapi dia sudah berniat untuk mengenakan jilbab.” Kenyataan tersebut telah mengiris-ngiris keimananku yang tak kunjung berniat untuk menutup aurat, padahal aku telah mengenal Islam sejak aku dilahirkan ke dunia.

Kata-kata mentorku terus bersarang dipikiran dan hatiku hingga aku tiba di rumah. Kakak-kakak perempuanku telah lebih dahulu menutup auratnya. Namun, hal itu karena mereka bersekolah di sekolah Islam. Mereka memakai jilbab jika hendak pergi keluar rumah saja. Aku yang dari kecil bersekolah di sekolah negeri, tak ada pikiran untuk memakai jilbab. Aku pun selalu merasa risih dan enggan memakai jilbab ke sekolah, meskipun pada hari itu sekolahku mengharuskan para siswinya yang muslim mengenakan jilbab pada hari Jumat. Saat itu, aku masih berpikir bahwa jilbab itu ribet. Tapi, malam ini aku sangat bimbang. “Ya Rabb, apakah kejadian ini adalah cara-Mu untuk menunjukkan pintu hidayah-Mu kepadaku?”

******
13 Maret 2008

Sabtu pagi, aku bersiap untuk pergi bersama beberapa teman SMA. Di dalam kamar, aku menatap wajahku dengan lama di depan cermin. Ku yakinkan hatiku untuk memulai menutupi auratku. Bismillaahhirrahmaanirrahim. Dengan yakin, aku ambil jilbab dan ku tutupi rambutku dengan jilbab berwarna putih. Jilbab putih bersih aku kenakan di hari pertama ku menutup aurat. Semoga Allah tetap menjaga kebersihan hatiku, sehingga aku bisa tetap istiqomah dengan jilbabku.

Setelah rapi dengan jilbabku, aku pun keluar kamar. Ibuku tak banyak berkomentar tentang penampilanku pagi itu. Semenjak aku duduk di bangku kuliah, aku lebih sering menggunakan jilbab pada hari-hari tertentu, seperti hari Jumat yang dijadikan sebagai Jilbab Day’s di kampusku.

Senin pagi, aku keluar dari kamarku dengan mengenakan jilbab. Aku bersiap jalan ke kampus. Pada hari ketiga itu, ibu dan keluargaku pun belum berkomentar mengenai penampilanku yang kini berjilbab. Mungkin, ibu mengira bahwa aku menengakan jilbab karena ada acara atau hari tertentu di kampus, seperti Jilbab Day’s. Senin itu, hari pertama aku dan temanku, yang seorang muallaf, mengenakan jilbab ke kampus. Teman-teman kuliahku memberikan selamat kepada kami. Mereka berdoa agar kami bisa tetap istiqomah mengenakan jilbab.

Keesokan harinya, saat aku sedang bersiap-siap ke kampus, ibuku berkomentar tentang penampilanku yang lagi-lagi mengenakan jilbab.

Ibuku bertanya, “Tania, kamu pakai jilbab sekarang?”

Aku menjawab, “Iya Bu.”

“Kamu ngapain sih pakai jilbab? Nanti susah loh cari kerja. Untuk sekarang mah ga perlu banget memakai jilbab. Pakai jilbabnya nanti saja kalau kamu sudah menikah.”, Ibuku berkomentar dengan ketus.

Aku hanya menunduk mendengar perkataan ibu. Mata ini berkaca-kaca hampir tak kuat membendungan butiran air yang akan jatuh. Dadaku terasa sesak, seakan oksigen disekitarku lenyap seketika saat mendengar perkataan ibu. Ternyata, niat baik ini ditentang oleh ibuku sendiri.

“Ngapain sih pakai jilbab? Ribet tahu. Nanti bakal susah nyari kerja.”, tiba-tiba Ka Rani menimpali perkataan ibu.

Aku tak habis pikir kalau ibu dan kakakku bisa berkata seperti itu. Mereka tak mendukung keputusanku untuk menutup aurat. Mereka malah mengatakan bahwa sekarang aku belum perlu untuk memakai jilbab. Bahkan kakak lelakiku pun bertanya kepadaku kenapa aku memakai jilbab. Padahal, kakak lelakiku itu menginginkan seorang wanita berjilbab untuk menjadi pendamping hidupnya, tapi dia malah melarang adik perempuannya mengenakan berjilbab.

Seperti berjalan sendiri di sebuah padang ketika keluargaku tak mendukung niat baikku ini, kecuali ayahku. Meskipun ibu dan kakak-kakakku berkomentar sinis, aku masih memiliki ayah yang berada dipihakku.

******

Malam itu, ketika aku berada di dalam kamar, aku mendengar ibu dan kakak-kakaku membicarakanku. Mereka semua tetap tidak menyukai keputusanku itu. Sungguh menyakitkan mendengar mereka berbicara di belakangku. Aku merasa seperti dipojokkan dalam keluargaku sendiri. Keluargaku bukanlah keluarga yang tidak sama sekali mengerti agama, tapi kenapa mereka bisa berpikiran sesempit itu terhadap wanita yang menutup auratnya. Sambil meneteskan air mata, hatiku berkata, ”Ya Allah, apakah ini bagian dari ujian-Mu kepadaku? Ya Allah, berikan aku kesabaran untuk menghadapi keluargaku dan berikan aku keteguhan untuk tetap pada pendirianku.”

******

Suatu hari, rohis dari departemenku mengadakan acara. Aku salah satu panitia dari acara tersebut. Seluruh panitia wanita diharuskan mengenakan rok. Saat itu, hatiku langsung menolak untuk mengenakan rok. Aku tak memiliki rok dan aku enggan untuk memakainya. Saat aku memutuskan untuk berjilbab, aku memang masih mengenakan celana panjang dalam setiap aktifitasku. Karena sudah diputuskan bahwa semua panitia menggunakan rok, aku pun terpaksa harus mematuhinya. Aku meminjam rok pada kakakku.

Akhirnya, aku pun mematuhi peraturan panitia untuk mengenakan rok. Seperti biasa, untuk kesekian kalinya ibu ku berkomentar tentang penampilanku. Pagi itu, ibu berkomentar tentang penampilanku yang mengenakan rok.

”Tania, kamu ngapain sih pakai rok? Ribet jalannya.”, tanya ibu kepadaku.

Aku hanya tersenyum dan meminta izin untuk pergi ke kampus.

Ternyata, hari itu adalah permulaan aku mencoba untuk memakai rok. Setelah hari itu, aku mendapatkan hadiah berupa sebuah rok dari sahabatku. Aku kembali berpikir apakah kado ini adalah sebuah teguran dari Allah agar aku segera mengenakan rok. Setelah hari itu, aku mulai terbiasa memakai rok saat pergi ke kampus. Aku pun mulai memanjangkan jilbabku hingga menutupi dada.

******

13 Agustus 2008

Setelah jam kuliah berakhir, aku kembali dijemput oleh laki-laki yang telah dekat dengan ku sejak kelas 2 SMA. Sepanjang perjalanan otakku terus berpikir memilih kata-kata yang tepat untuk mengakhiri hubungan kami. Kata-kata yang tidak menyinggung dan menyakiti dia. Sesampainya di depan rumahku, aku turun dari motornya.

Dengan suara sedikit parau, aku memberanikan diri mengatakan, ”Rian, mulai hari ini, lebih baik kita berteman saja. Masih mau kan menjadi teman Tania?”

Rian menjawab, ”Memangnya kenapa? Kenapa seperti ini?”

Aku terdiam. Aku tak mampu mengeluarkan kata-kata. Tanpa sadar, air mataku menetes begitu saja tanpa bisa dibendung.

Kemudian Rian berkata dengan mata yang mulai berkaca-kaca, ”Baiklah, kalau Tania memang maunya seperti itu.”

Aku melihat gurat sedih diwajahnya. Kami berdua terbuai dalam kesedihan saat mengakhiri hubungan yang telah berjalan kurang lebih 3 tahun. Setelah mengakhiri hubungan kami, aku langsung bergegas masuk ke dalam rumah.

Saat tiba di kamar, air mata ini belumlah terhapus sempurna. Namun, aku merasakan sebuah kebahagian, kebebasan, dan ketenangan, bukan lagi kesedihan seperti beberapa menit yang lalu. Aku seperti telah meletakkan beban yang selama ini aku pikul. Terasa ringan. Aku seperti burung yang dibebaskan dari sangkarnya. Bebas dan lepas. Kini aku bisa lebih fokus untuk kuliahku, keluargaku, aktifitasku, dan tentu saja ibadahku.

Setelah malam itu, langkahku terasa ringan untuk mencintai-Nya dan melakukan hal-hal yang disukai-Nya tanpa harus membagi perhatian kepada orang yang belum tentu menjadi jodohku. Kesabaranku terhadap keluargaku pun berbuah manis. Kini, mereka telah menerima perubahan dalam diriku dengan senang hati.

Aku teringat dengan buku karya Salim A. Fillah yang berjudul Saksikan bahwa Aku Seorang Muslim yang pernah kubaca. Aku semakin yakin dan bangga menunjukkan identitasku sebagai seorang muslimah. Aku tak perlu memikirkan tentang komentar-komentar orang tentang aku yang memakai jilbab panjang dan mengenakan rok. Aku adalah seorang muslimah. Menutup aurat bukanlah kebutuhanku, tetapi kewajibanku. Hal tersebut sudah jelas dikatakan dalam firman Allah SWT dalam surat Al-Ahzab ayat 59,

”Wahai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”